ASI Ekslusif
ASI pertama yang keluar warnanya kekuningan (kolostrum) adalah "susu kotor/basi" dan harus dibuang.
MITOS. Cairan kuning ini justru "emas" bagi bayi. Kolostrum mengandung zat kekebalan tubuh yang sangat tinggi, berfungsi seperti imunisasi pertama agar bayi tidak gampang sakit/ greges.
Bayi baru lahir yang menangis terus boleh dikasih air putih atau madu sedikit kalau ASI ibu belum keluar.
MITOS. Bayi baru lahir punya cadangan makanan di tubuhnya yang tahan sampai 2-3 hari. Air putih tidak ada gizinya dan malah bikin perut bayi kembung. Madu juga dilarang untuk bayi di bawah 1 tahun karena berisiko mengandung bakteri yang bikin keracunan.
Umur 2 bulan bayi sering rewel karena ASI kurang kenyang, jadi boleh diberi cau meunang ngalemet (pisang lumat) atau bubur beas.
MITOS. Lambung bayi di bawah 6 bulan masih sangat kecil dan belum siap mencerna makanan padat. Memberi makanan sebelum waktunya bisa bikin bayi sembelit, ususnya terluka, atau mencret. ASI saja sudah 100% cukup hingga bayi usia 6 bulan.
Ibu menyusui tidak boleh makan pedas, karena nanti bayinya mencret atau perutnya murilit.
MITOS. Rasa pedas tidak langsung masuk ke dalam ASI. Makanan yang dimakan ibu akan diolah dulu oleh tubuh. Ibu boleh makan pedas asal tidak berlebihan sampai membuat perut ibunya sendiri sakit.
Ibu yang sering makan sayuran hijau seperti daun katuk atau daun singkong agar produksi ASI-nya lebih lancar.
FAKTA. Sayuran hijau kaya akan zat besi, vitamin, dan mineral. Selain daun katuk, makanan lokal Sukabumi yang bergizi juga sangat bagus untuk mendukung kelancaran ASI dan stamina ibu.
Ibu menyusui nggak boleh banyak pikiran atau stres karena bisa bikin ASI seret atau berhenti.
FAKTA. Kondisi psikologis sangat pengaruh ke ASI. Kalau ibu stres, sedih, atau capek pisan, hormon oksitosin (hormon pelancar ASI) bisa terhambat. Jadi, suami dan keluarga harus membantu meringankan pekerjaan rumah ibu.
Bayi yang cuma dikasih ASI badannya bisa kurus/kurang gizi, lebih baik ditambah susu formula (sufor) biar montok.
MITOS. ASI adalah makanan terbaik yang komposisinya tidak bisa ditiru oleh pabrik sufor manapun. Bayi montok karena sufor seringkali karena tumpukan lemak air atau gula tinggi, sedangkan bayi ASI tumbuh sehat sesuai grafik kurva pertumbuhannya.
Kalau ibu sedang sakit seperti demam atau batuk pilek, tidak boleh menyusui karena penyakitnya bisa nular lewat ASI.
MITOS. Justru saat ibu sakit ringan seperti batuk/pilek, tubuh ibu memproduksi antibodi untuk melawan penyakit tersebut. Antibodi ini akan masuk ke dalam ASI dan malah melindungi bayi. Cukup susui bayi sambil memakai masker.
Isapan bayi langsung pada payudara ibu jauh lebih efektif melancarkan ASI dibanding menggunakan pompa ASI.
FAKTA. Sentuhan kulit ke kulit (skin-to-skin) dan isapan langsung dari mulut bayi mengirimkan sinyal saraf yang sangat kuat ke otak ibu untuk melepaskan hormon oksitosin (hormon kasih sayang). Hormon inilah yang membuat ASI memancar deras, sesuatu yang tidak bisa ditiru secara maksimal oleh mesin pompa.
Ibu yang punya puting payudara datar (lesep) atau melesak ke dalam tidak akan bisa menyusui bayinya.
MITOS. Sebenarnya bayi itu menyusu pada kalang payudara (area hitam/areola), bukan cuma mengisap ujung putingnya saja. Selama pelekatan mulut bayi benar dan masuk ke dalam areola, bayi tetap bisa menyedot ASI dengan lancar.
Stunting
Stunting bisa diobati. Anak nanti akan bertambah tinggi dengan sendirinya kalau dikasih makan banyak saat sudah SD atau remaja.
MITOS. Stunting bersifat permanen jika tidak ditangani sebelum usia anak 2 tahun (1000 Hari Pertama Kehidupan). Kalau sudah lewat 2 tahun, perbaikannya akan sangat sulit. Meningkatkan porsi makan secara drastis saat anak sudah berumur SD atau remaja tidak dapat mengejar ketertinggalan tinggi badannya yang terhambat, melainkan justru berisiko memicu obesitas dan penyakit tidak menular di masa dewasa.
Anak pendek sudah pasti karena turunan (genetik) dari orang tuanya yang juga pendek.
MITOS. Faktor keturunan hanya berpengaruh sangat kecil (sekitar 10-15%). Anak menjadi pendek/stunting paling banyak disebabkan karena kurang gizi dalam waktu lama (sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun dan sering sakit/infeksi.)
Anak yang stunting bukan cuma fisiknya yang pendek, tapi otak dan kecerdasannya juga ikut terhambat.
FAKTA. Hal ini termasuk bahaya stunting. Pertumbuhan sel otaknya tidak maksimal, sehingga nanti saat masuk sekolah, anak gampang lupa, sulit focus, dan sistem kekebalan tubuhnya lebih lemah.
Ibu hamil yang sering lemah, pucat, dan memiliki anemia (kurang darah) punya risiko tinggi melahirkan anak stunting.
FAKTA. Anemia pada ibu hamil membuat suplai oksigen dan nutrisi ke janin berkurang. Akibatnya bayi lahir dengan berat badan rendah dan berisiko besar menjadi stunting. Ibu hamil wajib rutin minum Tablet Tambah Darah / TTD.
Susu kental manis (SKM) / susu kaleng bagus diberikan tiap hari untuk mencegah stunting karena namanya susu. Selain itu, murah dan disukai anak.
MITOS. SKM itu bukan susu, melainkan krimer yang isinya lebih dari 50% adalah gula. Memberi balita SKM tidak akan mencegah stunting, malah bikin anak obesitas, gigi karies (gigis), dan kehilangan nafsu makan nasi/lauk karena sudah kenyang gula.
Stunting bisa dicegah sejak ibu masih remaja atau belum menikah.
FAKTA. Pencegahan stunting sangat efektif jika dimulai dari remaja dengan memastikan mereka tidak anemia (minum TTD di sekolah), menjaga gizi, dan mencegah pernikahan di bawah umur.
Anak yang mengalami stunting biasanya juga akan mengalami keterlambatan dalam pubertas.
FAKTA. Kekurangan gizi kronis yang menyebabkan stunting dapat mengganggu sistem hormon tubuh anak. Akibatnya, perkembangan organ reproduksi dan tanda-taman pubertas (seperti menstruasi pertama pada anak perempuan) bisa datang lebih lambat dibanding anak seusianya yang sehat.
Kebiasaan masyarakat buang air besar (BAB) di solokan, serta air sumur yang kotor, bisa memicu anak jadi stunting.
FAKTA. Sanitasi yang buruk menyebabkan balita gampang kena diare (mencret), cacingan, atau tipes. Walaupun makannya bergizi, kalau anak sering sakit infeksi, gizinya akan habis dipakai untuk melawan penyakit, bukan untuk tumbuh kembang otaknya.
Membiarkan anak menjadi perokok pasif (sering terpapar asap rokok dari bapak atau keluarga di rumah) bisa menyebabkan anak stunting.
FAKTA. Asap rokok yang terhirup oleh balita atau ibu hamil dapat merusak paru-paru dan mengganggu penyerapan nutrisi di usus anak. Akibatnya, meskipun anak dikasih makanan bergizi, zat gizinya rusak oleh racun asap rokok sehingga pertumbuhan anak terganggu.
Anak yang cacingan mudah mengalami kondisi stunting.
FAKTA. Cacing yang hidup di dalam perut anak akan menyerap, merampas, dan memakan sari-sari makanan bergizi yang masuk. Akibatnya, anak menjadi anemia (kurang darah), kurus, dan tubuhnya tidak bisa bertambah tinggi karena gizinya "dihabiskan" oleh cacing.
Login untuk menyimpan progress belajar.